5 Hal yang Sering Diremehkan Jamaah Sebelum Berangkat Umroh

Umroh merupakan perjalanan ibadah yang membutuhkan persiapan lebih dari sekadar membeli tiket, menyiapkan koper, dan menghafalkan rangkaian doa. Jamaah akan menghadapi perjalanan panjang, perubahan cuaca, aktivitas fisik yang cukup tinggi, serta lingkungan yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, persiapan yang matang sangat penting agar jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman dan fokus. Sayangnya, ada beberapa hal yang sering dianggap sepele oleh calon jamaah. Padahal, hal-hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kenyamanan dan kelancaran ibadah selama berada di Tanah Suci. Berikut lima hal yang sering diremehkan jamaah sebelum berangkat umroh.
1. Persiapan Fisik dan Stamina
Salah satu hal yang sering terlupakan adalah kondisi fisik. Sebagian calon jamaah merasa bahwa persiapan umroh cukup dilakukan dengan mengikuti manasik dan mempersiapkan perlengkapan. Padahal, kondisi tubuh juga perlu dipersiapkan karena aktivitas selama umroh dapat melibatkan banyak berjalan kaki dan berdiri.Jamaah dapat berjalan dari hotel menuju masjid, melakukan tawaf, sa'i, mengikuti kegiatan ziarah, hingga berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Bagi jamaah yang jarang melakukan aktivitas fisik, rutinitas tersebut dapat terasa cukup melelahkan.
Persiapan fisik sebaiknya dilakukan secara bertahap beberapa minggu sebelum keberangkatan. Tidak harus dengan olahraga berat. Jalan kaki secara rutin, latihan ringan, peregangan, serta membiasakan tubuh beraktivitas dalam durasi yang lebih panjang dapat menjadi langkah sederhana.Selain olahraga, pola tidur dan pola makan juga perlu diperhatikan. Usahakan memiliki waktu istirahat yang cukup dan menjaga asupan makanan agar kondisi tubuh tetap prima.
Persiapan kesehatan juga tidak kalah penting bagi jamaah lanjut usia atau jamaah yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. WHO merekomendasikan jamaah membawa dokumentasi medis yang diperlukan dan obat-obatan yang mencukupi selama perjalanan. WHO juga menekankan pentingnya upaya pencegahan terhadap risiko infeksi, gangguan akibat panas, serta masalah kesehatan lain selama perjalanan ibadah. Dengan kondisi fisik yang lebih siap, jamaah tidak hanya lebih nyaman dalam beraktivitas, tetapi juga dapat menghemat tenaga untuk menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk.
2. Persiapan Kesehatan Sering Dilakukan Terlalu Dekat dengan Keberangkatan
Kesalahan lainnya adalah menganggap persiapan kesehatan sebagai sesuatu yang dapat dilakukan menjelang keberangkatan. Padahal, beberapa persyaratan kesehatan perjalanan internasional membutuhkan perhatian lebih awal. Salah satunya adalah vaksinasi meningitis dan polio.
Kementerian Kesehatan RI melalui Surat Edaran nya menetapkan bahwa vaksinasi meningitis dan polio merupakan kewajiban bagi jamaah yang datang ke Arab Saudi menggunakan visa haji dan umroh. Ketentuan tersebut merupakan tindak lanjut dari pembaruan persyaratan kesehatan yang ditetapkan oleh otoritas Arab Saudi.
Selain vaksinasi, jamaah sebaiknya mempersiapkan obat-obatan pribadi jika memang diperlukan. Jamaah yang sedang menjalani pengobatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai obat yang perlu dibawa dan cara penggunaannya selama perjalanan. Persiapan kesehatan yang dilakukan lebih awal akan memberikan waktu yang cukup apabila jamaah perlu melakukan pemeriksaan, vaksinasi, atau melengkapi dokumen kesehatan tertentu.
3. Membawa Barang Terlalu Banyak
Membawa perlengkapan secukupnya mungkin terdengar sederhana, tetapi pada praktiknya banyak jamaah justru membawa barang terlalu banyak. Kekhawatiran akan kekurangan pakaian, perlengkapan mandi, makanan, obat-obatan, hingga berbagai barang pribadi sering membuat koper menjadi terlalu penuh. Akibatnya, jamaah justru kesulitan ketika harus berpindah hotel, mengambil koper, atau membawa barang selama perjalanan.
Sebelum memasukkan semua barang ke dalam koper, buatlah daftar kebutuhan berdasarkan kategori. Pilih pakaian yang nyaman dan mudah digunakan. Tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian karena kebutuhan selama perjalanan dapat disesuaikan dengan durasi program.
Perlengkapan yang berukuran kecil juga sebaiknya diprioritaskan. Untuk barang tertentu yang mudah ditemukan di Tanah Suci, jamaah tidak selalu perlu membawanya dalam jumlah banyak dari Indonesia. Yang lebih penting, jangan lupa menyimpan dokumen dan barang penting di tempat yang mudah dijangkau. Paspor, identitas, dokumen perjalanan, uang, ponsel, dan obat-obatan penting sebaiknya tidak ditempatkan sembarangan di dalam koper yang masuk bagasi.
4. Tidak Memahami Detail Paket Umroh yang Dipilih
Harga sering menjadi salah satu pertimbangan utama ketika seseorang memilih paket umroh. Namun, terlalu fokus pada harga dapat membuat calon jamaah lupa melihat detail pelayanan yang sebenarnya mereka dapatkan. Padahal, dua paket dengan harga berbeda belum tentu memiliki kualitas pelayanan yang sama. Perbedaan dapat terdapat pada maskapai, jadwal penerbangan, hotel, jarak hotel ke masjid, transportasi, konsumsi, program ziarah, pembimbing, hingga fasilitas lainnya.
Kementerian Agama telah mengingatkan calon jamaah untuk menerapkan prinsip “5 Pasti Umroh”, yaitu memastikan travel memiliki izin, memastikan tiket dan jadwal penerbangan, memastikan harga dan layanan, memastikan akomodasi, serta memastikan visa.
Karena itu, sebelum mendaftar, calon jamaah sebaiknya tidak ragu untuk bertanya secara rinci kepada pihak travel. Dengan memahami detail paket sejak awal, jamaah dapat menghindari kesalahpahaman dan memiliki ekspektasi yang realistis terhadap layanan yang akan diterima.
5. Kurang Mempersiapkan Mental dan Manajemen Waktu
Persiapan terakhir yang sering dianggap sepele adalah persiapan mental. Banyak calon jamaah membayangkan bahwa perjalanan umroh hanya akan dipenuhi suasana tenang dan menyenangkan. Padahal, seperti perjalanan pada umumnya, terdapat berbagai situasi yang mungkin terjadi. Penerbangan dapat mengalami perubahan jadwal, kondisi masjid dapat sangat ramai, perjalanan bus dapat memerlukan waktu, dan jamaah mungkin harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru.
Karena itu, kesabaran merupakan salah satu bekal penting selama berada di Tanah Suci. Jamaah juga perlu memahami bahwa umroh bukan perjalanan wisata biasa. Ada rangkaian ibadah yang perlu dijalankan, sehingga kemampuan mengatur waktu menjadi sangat penting. Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengikuti seluruh aktivitas jika tubuh sudah kelelahan. Istirahat yang cukup justru dapat membantu jamaah menjaga stamina untuk ibadah berikutnya.
Selain itu, sebaiknya jamaah mengikuti manasik dengan sungguh-sungguh. Manasik bukan sekadar acara formal sebelum keberangkatan, tetapi kesempatan untuk memahami tata cara ibadah, mengenali kondisi yang mungkin ditemui di Tanah Suci, serta bertanya langsung kepada pembimbing apabila terdapat hal yang belum dipahami. Jamaah yang memiliki pemahaman ibadah dan ekspektasi perjalanan yang baik biasanya akan lebih siap menghadapi berbagai situasi.
Persiapan yang Matang Membuat Ibadah Lebih Nyaman
Umroh adalah perjalanan yang memiliki nilai spiritual sangat besar. Karena itu, persiapan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada perlengkapan dan biaya. Pada akhirnya, persiapan terbaik bukanlah membawa sebanyak mungkin barang atau membuat rencana yang terlalu rumit. Persiapan terbaik adalah memastikan hal-hal penting telah dipikirkan sejak awal sehingga ketika tiba waktunya berangkat, jamaah dapat lebih fokus pada tujuan utama : menjalankan ibadah umroh dengan tenang, nyaman, dan sebaik-baiknya.
